SATU YANG PENTING DAN HARUS DIPERHATIKAN, EFEK PJJ

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim tetap memikirkan dampak yang terjadi jika pembelajaran jarak jauh terus dilakukan. Melihat dari berbagai riset yang dilakukan terkait pendidikan dalam situasi bencana, PJJ kata Mendikbud juga memberikan efek yang sangat berpengaruh bagi seluruh insan pendidikan, khususunya siswa.

“satu poin yang sangat penting untuk dimengerti, bahwa dari semua riset yang telah dilakukan di situasi-situasi bencana lainnya, dimana sekolah itu tidak bisa melakukan pembelajaran tatap muka. Bahwa efek dari pada memberlakukan pembelajaran jarak jauh secara berkepanjangan, itu bagi siswa adalah efek yang bisa sangat negatif dan permanen,” tutur Mendikbud dalam video di akun YouTube KEMENDIKBUD RI berjudul “Pengumuman Penyesuaian Kebijakan Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19”, Jumat (7/8/2020).

Dalam veideo berdurasi 1 jam 32 menit tersebut, Pemerintah melakukan penyesuaian keputusan bersama Empat Menteri terkait pelaksanaan pembelajaran di zona selain merah dan oranye, yakni di zona kuning dan hijau, untuk dapat melaksanakan pembelajaran tatap muka dengan penerapan protokol kesehatan yang sangat ketat.

Dalam pemaparannya, Mas Menteri mengatakan, ada tiga dampak utama dari pembelajaran jarak jauh yang berkepanjangan. Pertama adalah ancaman putus sekolah, penurunan capaian belajar serta kekerasan pada anak dan resiko eksternal.

Dampak pertama, ancaman putus sekolah, menurut Mendikbud ada berbagai macam anak yang akhirnya terpaksa bekerja. Hal itu dikarenakan kondisi sekolah PJJ tidak optimal yang akhirnya mereka putus sekolah.

“Dan juga persepsi beberapa orang tua berubah mengenai peran sekolah dalam proses pembelajaran yang tidak optimal. Sehingga ancaman putus sekolah ini sesuatu yang real dan bisa berdampak seumur hidup bagi anak-anak kita,” papar Mas Menteri.

Kemudian, penurunan capaian pelajar. Mendikbud tidak menampik bahwa PJJ tidak optimal dari sisi pencapaian pelajar. Dan kesenjangan kualitas anak antara yang punya akses ke teknologi dan yang tidak itu menjadi semakin besar.

“Kita beresiko mempunyai generasi dengan learning lose, lost generation, dimana akan ada dampak permanen terhadap generasi kita. Terutama bagi yang lebih muda,” katanya.

Dan yang terakhir, Mendikbud mengatakan banyak sekali riset dimana peningkatan kekerasan terhadap anak dan resiko psiko sosial, seperti stres didalam rumah karena tidak dapat keluar, tidak bertemu teman, dan sebagainya.

“Jadi dampak psikologis, dampak masa depan anak-anak kita untuk melakukan PJJ secara berkepanjangan ini real.

Itulah alasannya, sambung Nadiem, insan pendidikan harus memiliki dua prinsip kebijakan pendidikan di masa pandemi Covid-19. Dimana empat kementerian sepakat bahwa ada prinsip kesehatan dan keselamatan peserta didik, tenaga kependidikan, keluarga, dan masyarakat merupakan rpioritas pertama dan utama dalam menentapkan kebijakan pembelajaran.

“Tapi juga ada prinsip kedua yaitu, apa yang terbaik untuk anak-anak kita dan masa depan generasi penerus bangsa kita, juga harus menjadi pertimbangan. Karena efek dari pada bagi yang tidak bisa melakukan pembelajaran jarak jauh, juga sangat bisa negatif dan sangat permanen bagi anak-anak generasi kita. Jadinya tidak boleh kebijakan pemerintah itu unidimensional. Hanya satu dimensi saja, tapi juga harus mementingkan apa yang terbaik untuk masa depan anak-anak kita,” kata Mendikbud.

Prinsip kedua tersebut adalah tumbuh kembang peserta didik dan dan kondisi psikososial yang harus menjadi pertimbangan dalam pemenuhan layanan pendidikan selama masa pandemi Covid-19