PRAPTONO: JALANKAN PERAN DUTA SAINS SECARA OPTIMAL

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp

Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Praptono mengatakan bahwa para Duta Sains yang telah dikukuhkan oleh PPPPTK IPA memiliki ruang dan kesempatan yang lebih luas untuk memajukan pendidikan di Indonesia.

Praptono mengatakan bahwa Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Anwar Makarim mendapatkan tugas dari Presiden Jokowi untuk mampu meningkatkan skor Programme for Internasional Student Assessment (PISA) Indonesia. Sebab, skor PISA Indonesia masih tertinggal dengan negara-negara lain.  

“Skor PISA terdiri dari 3 lingkup yang menjadi fokusnya, yakni literasi, numerasi dan sains. Jadi  kalau di-persentase-kan kontribusi Bapak/Ibu para Duta Sains ini untuk menjalankan amanat dari Bapak Presiden  sebesar 33,3 persen. Jadi ini bukan main-main,” ujarnya saat memberikan kata sambutan pada  Pengukuhan Duta Sains PPPPTK IPA, Kamis (18/6/2020).

Praptono mengatakan bahwa dirinya memiliki keyakinan yang kuat skor PISA Indonesia akan mengalami peningkatan. Maka itu, dia berpesan kepada para Duta Sains untuk melaksanakan tugasnya secara optimal.

“Saya berkeyakinan kalau peran dari Duta Sains ini dilakukan secara optimal maka kontribusi untuk mengangkat keberhasilan Kemendikbud untuk mencapai kinerja seperti disampaikan oleh Bapak Presiden ini menjadi sangat penting,” katanya.

Dia menjelaskan, khusus di bidang sains passing grade yang harus dicapai masih kurang 93 dari  targetnya 500. Maka itu, untuk mencapai skor tersebut dibutuhkan kerja sama oleh semua pihak.

Pada kesempatan ini, Praptono juga mengingatkan kepada para guru dan kepala sekolah agar senantiasa meningkatkan capaian hasil belajar siswa. “Jadi Bapak/Ibu sudah pernah mengikuti pelatihan baik di dalam atau luar negeri adalah bagaimana memastikan bahwa hasil belajar dari anak-anak meningkat,” harapnya.

Lebih lanjut dia meminta kepada para guru dan kepala sekolah untuk mencetak lahirnya Pelajar Pancasila. Pelajar Pancasila memiliki enam karakter yakni berakhlak mulia, mandiri, bernalar kritis, kreatif, gotong royong dan kebhinekaan global

“Para Duta Sains ini akan memberikan kontribusi yang  besar pada dua karakrer Pelajar Pancasila tersebut, yaitu bagaimana meningkatkan daya nalar kritis anak-anak dan berkontribusi besar dalam membangun kreativitas anak-anak,” ujarnya.

Untuk mencetak lahirnya Pelajar Pancasila, seperti disampaikan oleh Dirjen GTK, Iwan Syahril sering menegaskan pantingnya merdeka belajar yang akan  diwujdukan melalui program Sekolah Penggerak. Praptono menjelaskan ada empat sisi penting yang harus diperhatikan dalam  Sekolah Penggerak.

Pertama, kemampuan kepala sekolah yang bisa menjadi instructional leader,  maka ke dapan kita membutuhkan kepala sekolah yang mampu menguasai pedagogi dan  kompetensi pembelajaran. Sehingga dia mampu memberikan solusi alternatif  dari persolanan yang dimiliki oleh para guru.

Kedua, ke depan guru-guru mampu mengajar pada level yang tepat. Sehingga  ke depan kita ingin para guru mampu memodifikasi dan adaptasi kurikulum. Sehingga mereka mampu merencanakan dan melaksanakan pembelajaran yang sesuai dengan karakter peserta didik dan sekaligus mampu mengoptimalkan perkembangannya.

Ketiga, Pelajar Pancasila dan Keempat, Komunitas. Pada komunitas ini adalah bagaimana kita mampu bergotong royong memanfaatkan seluruh potensi yang kita miliki untuk sama-sama mewujudkan pelayanan pendidikan di Indonesia,” imbuhnya.

Sebagai penutup, Praptono meminta kepada para Duta Sains untuk menjalankan perannya secara optimal. Sebab apa yang mereka lakukan sebagai sejarah bahwa mereka  telah berjuang dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.   “Semoga menjadi Duta Sains ini mereka manfaatkan sebagai sarana untuk berkontribusi lebih besar lagi dalam rangka memajukan pendidikan di Indonesia,” tutupnya.