MENINGKATKAN KOMPETENSI GURU DI BALAI GURU MERDEKA

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp

Menyiapkan peserta didik yang unggul dan mandiri, maka peran guru perlu diperhatikan. Guru yang berdaya dapat menggerakkan ekosistem pendidikan. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) di era Mas Menteri Nadiem memperkenalkan istilah “Guru Penggerak”. Untuk meningkatkan kompetensi para guru penggerak, peran Balai Guru Merdeka/Center of Excellence menjadi krusial.

“Balai Guru Merdeka menjadi wadah bagi guru penggerak untuk dia bisa melakukan aktivitas, melakukan penyebarluasan contoh baik kepada guru-guru yang lain untuk meningkatkan kompetensi guru Indonesia,” kata Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Praptono dalam wawancara telekonferensi kepada tim publikasi GTK Dikmen Diksus, Rabu (8/4/2020).

Menurut sosok yang lama berkecimpung di ranah Pendidikan Khusus ini para guru harus siap dengan inovasi dan kreativitas, mengantisipasi, mempersiapkan peserta didik untuk mengisi zamannya di masa mendatang.

Bagaimana bapak memaknai konsep guru penggerak?

Guru Penggerak itu adalah guru yang berdaya dan bisa memberdayakan. Nah guru yang berdaya itu seperti apa? Ada 5 karakter guru berdaya yang diinginkan oleh Mas Menteri ya. Yang pertama guru itu harus berjiwa nasionalisme. Yang kedua, berkarakter pembelajar. Yang ketiga, profesional. Yang keempat, guru yang kreatif, inovatif. Yang terakhir, guru yang berhamba kepada peserta didik.

Dengan guru penggerak ini paling tidak ada dua hal yang harus diwujudkan. Guru itu harus memiliki kompetensi sebagai guru Indonesia. Yang kedua, guru itu memiliki kepedulian, memiliki kemauan untuk mengajak guru-guru yang lain, yang ada di sekitarnya untuk menjadi guru-guru yang memenuhi kompetensi guru Indonesia.

Apa saja tugas, pokok, dan fungsi dari Balai Guru Merdeka/Center of Excellence (CoE) di Kemendikbud?

Ini kan satu konsep baru ya yang kajiannya sedang dikembangkan bagaimana Balai Guru Merdeka bisa jalan di tengah-tengah sistem pendidikan kita dan mudah-mudahan nanti di Desember formulasinya sudah selesai. Tetapi yang jelas Balai Guru Merdeka menjadi wadah bagi guru penggerak untuk dia bisa melakukan aktivitas, melakukan penyebarluasan contoh baik kepada guru-guru yang lain untuk meningkatkan kompetensi guru Indonesia.

Jadi di Balai Guru Merdeka inilah berkumpul pihak-pihak yang mereka punya keunggulan dalam peningkatan kompetensi guru, baik dari praktisi, relawan, dari guru penggerak itu sendiri untuk mereka bisa jadi fasilitator menjembatani guru-guru yang lain agar meningkat kompetensinya dalam hal pembelajaran. Jadi ini suatu konsep baru yang masih digodok dan dimatangkan di Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan.

Merujuk pada Rapat Kerja Mendikbud Nadiem Makarim pada tanggal 20 Februari 2020 kala menjelaskan program prioritas Kemendikbud di hadapan Komisi X DPR RI, tertera 35.000 guru dilatih melalui Balai Guru Merdeka/Center of Excellence (CoE) dengan alokasi anggaran Rp 259,1 Miliar. Bisa bapak jelaskan terkait hal tersebut?

Ini kan satu pendekatan pelatihan yang lengkap ya, tidak hanya dari tataran teoritis saja. Karena ini berhimpunnya guru-guru setempat, maka tidak hanya dikuatkan dari aspek pengetahuan, tapi implementasinya juga didampingi oleh guru penggerak, sehingga ini memang pendekatannya akan in-on-in begitu. Dipastikan betul guru yang dapat melaksanakan pembelajaran kepada peserta didik itu bisa direalisasikan di dalam kelas.

Itulah sebabnya dengan sasaran 35.000 itu di tahun pertama, nanti di tahun kedua kalau dari satu guru penggerak bisa melakukan pendampingan 20 guru penggerak itu berarti sudah 700.000, berikutnya lagi akan menjadi percepatan luar biasa yang sama-sama meningkatkan kompetensi guru Indonesia. Melihatnya jangan saat ini saja tapi bagaimana hal yang dilakukan dan bagaimana guru-guru itu tetap memiliki tanggung jawab, kontribusi untuk meningkatkan kompetensi guru yang lainnya.

Sejauh mana keterlibatan pihak di luar Kemendikbud (seperti organisasi kemasyarakatan, organisasi guru, lembaga internasional, dan sebagainya) dapat membantu peningkatan kompetensi guru?

Itu kan fakta, data sudah banyak menunjukkan dalam kurun waktu puluhan tahun memajukan pendidikan di Indonesia. Banyak lembaga-lembaga nasional bahkan internasional yang sudah memberikan bukti kepada kita dengan suatu model peningkatan kompetensi guru yang memberikan dampak baik kepada peningkatan hasil belajar siswa. Berangkat dari kesadaran itulah maka kemudian Kemendikbud ingin menggandeng mereka dan itulah yang disebutkan dengan Program Organisasi Penggerak.

Dan alhamdulillah setelah di-launching pada 10 Maret 2020 sampai hari ini (wawancara dilakukan Rabu, 8 April 2020) tercatat 4.200 organisasi penggerak mendaftarkan sebagai organisasi yang siap bermitra untuk program ini. Kemudian juga ada 15.000 relawan yang secara personal dia ingin berkontribusi untuk kemajuan pendidikan Indonesia. Ini kan satu potensi yang luar biasa. Sekarang kita sedang melakukan evaluasi terhadap program-program mereka.

Dan mudah-mudahan kalau isu penyebaran virus Corona ini bisa segera tertangani, ini tidak akan sampai mengganggu implementasi Program Organisasi Penggerak yang direncanakan Agustus itu harus sudah bisa jalan.

Bagaimana bapak melihat Merdeka Belajar Episode Keempat: Program Organisasi Penggerak yang juga menyasar satuan pendidikan pada jenis pendidikan khusus/luar biasa? Apakah ada target tertentu untuk satuap pendidikan khusus/luar biasa?

Program ini tak bisa ditarget-targetin. Program Organisasi Penggerak sangat terbuka, siapa saja boleh mengajukan selama memenuhi kriteria. Dan nanti proposal akan dievaluasi oleh tim yang profesional dan independen.

Yang bisa saya lakukan adalah mengajak organisasi-organisasi yang selama ini peduli dengan pendidikan bagi penyandang disabilitas ayo kita manfaatkan, kita libatkan diri kita dengan program yang sangat brilian dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tentang Program Organisasi Penggerak sehingga ide-ide yang dimiliki, contoh-contoh baik yang sudah diterapkan, bisa didukung oleh pemerintah dengan pembiayaan yang sudah dialokasikan.

Kita membagi dalam tiga kategori. Gajah, pendampingan pembiayaannya sampai 20 milyar, kategori Macan bisa sampai 5 milyar, kategori Kijang kita alokasikan bisa sampai 1 milyar.

Zaman berubah, karakter siswa yang sekarang bisa jadi berbeda dengan 10 tahun yang lalu, sejauh mana diperlukan inovasi dalam kegiatan belajar mengajar?

Pembelajaran yang dilakukan harus siap merespons perubahan yang terjadi di 10, 20, 30 tahun yang akan datang. Kalau kita mendidik anak-anak kita dengan keadaan yang sekarang, maka pada saat dia terjun ke masyarakat, dia akan menjadi orang yang terbelakang.

Nah dunia pendidikan kita harus berisi dengan inovasi dan kreativitas, mengantisipasi, mempersiapkan anak-anak kita untuk mengisi zamannya di 20, 30 tahun yang akan datang. Itulah sebabnya kita sangat memberikan perhatian serius kepada para guru kita untuk menanamkan beberapa kemampuan yang itu sangat dibutuhkan di abad 21, untuk masa yang akan datang, bagaimana kemampuan berpikir kritis (critical thinking), kemampuan komunikasi, kolaborasi,  kreativitas, kemampuan berpikir logis, computational thinking, itu menjadi keterampilan-keterampilan yang harus diajarkan, dibiasakan pada anak-anak didik kita. Anak-anak harus memiliki kemampuan multiskill sehingga nanti perubahan-perubahan yang terjadi pada zamannya bisa diikuti dengan kemampuan adaptasi yang kuat oleh anak-anak kita.

Seiring bencana non alam yakni Covid-19, pembelajaran jarak jauh menjadi pilihan. Tips dan saran apa yang diberikan oleh Kemendikbud untuk menghadirkan pembelajaran yang bermakna?

Anak-anak di rumah tidak dalam rangka libur, tapi masih dalam konteks untuk belajar. Yang kedua, untuk melaksanakan pembelajaran di rumah, bahwa mindset guru yang selama ini masih berpikir untuk mencapai isi kurikulum, ini harus diluruskan. Bahwa anak-anak ketika belajar di rumah itu jangan kemudian membuat anak-anak menjadi stres, karena anak-anak ini harus sehat. Karena anak-anak harus sehat, maka aktivitas belajarnya juga harus posisi yang terkendali.

Caranya bagaimana? Maka yang menjadi fokus utama dari pembelajaran di rumah itu adalah Penguatan Pendidikan Karakter. Saya kira ini yang harus dilakukan oleh para guru kita, jangan kita berpikir bagaimana isi kurikulum itu bisa ditransfer kepada anak-anak, tetapi jadikan momen kebersamaan anak-anak di rumah untuk dia bisa memperkuat hubungan anak dengan orang tua, komunikasi anak dengan orang tua, melakukan pembiasaan-pembiasaan baik yang selama ini tidak dilakukan. Ini yang harus dilakukan oleh guru kita.

Apa saja langkah yang dilakukan untuk meningkatkan pemahaman tentang Satuan Pendidikan Aman Bencana?

Aman bencana ini kan bagian dari pendidikan karakter, bagian dari kompetensi keahlian yang harus dimiliki oleh guru. Sejalan dengan program Guru Penggerak, maka saya berharap betul agar guru penggerak kita bekali dengan keterampilan-keterampilan tentang program aman bencana. Saya sudah menyiapkan satu paket unit pembelajaran dalam rangka untuk meningkatkan kompetensi guru di Satuan Pendidikan Aman Bencana. Dan ini sudah saya persiapkan untuk menjadi modul atau materi yang harus kita pahamkan kepada para guru penggerak. Ini unsur yang sangat penting, apalagi kita tahu Indonesia adalah daerah yang memiliki risiko bencana tinggi, maka program Satuan Pendidikan Aman Bencana menjadi program prioritas nasional yang harus ada dan sama-sama kita realisasikan.

Apakah modul yang disiapkan memuat materi terkait Covid-19?

Belum. Kita sudah selesai susun 3,4 bulan yang lalu. Tapi saya kira kalau modul itu disampaikan dengan kondisi yang sekarang sudah pasti akan lebih memudahkan bagi para guru untuk memahamkan bagaimana tindakan pencegahan dan hal-hal yang harus dilakukan agar Covid-19 ini bisa segera ditangani dengan baik. Ini kan persoalannya kepedulian yang masih sangat rendah, ketaatan untuk memenuhi protokol kesehatan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah, ini yang masih sangat belum optimal.