MENDIKBUD JELASKAN SOAL KURIKULUM DARURAT

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp

Banyak kendala yang dihadapi guru, orang tua, dan anak selama pembelajaran jarak jauh (PJJ) di masa pandemi Covid-19.

Kendala yang dialami guru  adalah  kesulitan guru dalam mengelola PJJ  dan cenderung fokus pada penuntasan kurikulum serta waktu pembelajaran berkurang sehingga guru tidak mungkin memenuhi beban jam mengajar.

Untuk orang tua kendala yang dihadapi adalah tidak semua orang tua mampu mendampingi anak belajar di rumah karena ada tanggung jawab lainnya (kerja, urusan rumah, dsb) serta kesulitan orang tua dalam memahami pelajaran dan memotivasi anak saat mendampingi belajar di rumah.

Sedangkan  kendala yang dihadapi siswa adalah  kesulitan konsentrasi belajar dari rumah dan mengeluhkan beratnya penugasan soal dari guru.

Maka itu Surat Keputusan Bersama (SKB) Empat Menteri  yakni Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri yang dikeluarkan pada pertengahan Juni 2020 akhirnya direvisi. Tentunya semua itu berdasarkan hasil evaluasi pemerintah pusat.

Demikian disampaikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim pada  taklimat media Penyesuaian Kebijakan Pembelajaran di Masa Pandemi COVID-19, di Jakarta, Jumat (07/08).

Zona kuning diperbolehkan lakukan pembelajaran tatap muka

Dalam revisi SKB tersebut, Nadiem mengatakan bahwa di zona kuning diperbolehkan melakukan pembelajaran tatap muka.

Pada kesempatan itu, Mendikbud juga menjelaskan bahwa pemerintah mengimplementasikan dua kebijakan baru, yakni:

1. Perluasan pembelajaran tatap muka untuk zona kuning.  Pelaksanaan pembelajaran tatap muka diperbolehkan untuk semua jenjang yang berada zona hijau dan zona kuning.

2. Kurikulum darurat (dalam kondisi khusus).  Sekolah diberi fleksibilitas untuk memilih kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran siswa. Modul pembelajaran dan asesmen dibuat untuk mendukung pelaksanaan kurikulum darurat (dalam kondisi khusus).

“ Untuk daerah yang berada di zona oranye dan merah, tetap dilarang melakukan pembelajaran tatap muka di satuan pendidikan. Sekolah pada zona-zona tersebut tetap melanjutkan Belajar dari Rumah (BDR),” ujar Mendikbud.

Mendikbud menegaskan meskipun di zona hijau dan kuning, sekolah tidak dapat melakukan pembelajaran tatap muka tanpa persetujuan Pemda/Kanwil dan Kepala Sekolah.  “Pembelajaran tatap muka di sekolah di zona kuning dan hijau diperbolehkan, namun tidak diwajibkan,” katanya menambahkan.

Terkait kurikulum darurat, Nadiem menjelaskan  itu merupakan penyederhanaan kompetensi dasar yang mengacu pada Kurikulum 2013.

Pada kurikulum darurat ini ada penyederhanaan kompetensi dasar untuk setiap mata pelajaran. Ini bertujuan agar guru lebih fokus pada kompetensi esensial dan kompetensi prasyarat untuk kelanjutan pembelajaran di tingkat selanjutnya.

“Pelaksanaan kurikulum berlaku sampai akhir tahun ajaran (tetap berlaku walaupun kondisi khusus sudah berakhir),” jelasnya menambahkan.

Nadiem memberikan kebebasan kepada satuan pendidikan  untuk memilih 3 opsi pelaksanaan kurikulum.

1. Tetap menggunakan kurikulum nasional 2013

2. Menggunakan kurikulum darurat (dalam kondisi khusus)

3. Melakukan penyederhanaan kurikulum secara mandiri.

Nadiem mengatakan dengan penyederhanaan kurikulum tersebut  diharapkan akan memudahkan proses pembelajaran di masa pandemi. Dan dia mengatakan penyederhanaan kurikulum ini juga akan memberikan dampak yang positif bagi guru, siswa dan orang tua. 

Dampak bagi guru

-Tersedianya acuan kurikulum yang sederhana

– Berkurangnya beban mengajar

– Guru dapat berfokus pada pendidikan dan pembelajaran yang esensial dan kontekstual

– Kesejahteraan psikososial guru meningkat.

Dampak bagi siswa

– Siswa tidak dibebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum dan dapat berfokus pada pendidikan dan pembelajaran yang esensial dan kontekstual.

–  Kesejahteraan psikososial siswa meningkat.

Dampak bagi orang tua

– Mempermudah pendampingan pembelajaran di rumah

– Kesejahteraan psikososial orang tua meningkat.

Nadiem berharap dengan  kurikulum darurat ini semoga bisa membantu mengurangi kendala yang dihadapi guru, orang tua, dan anak selama masa pandemi.