MEMBERLAKUKAN KBM TATAP MUKA, MENDIKBUD MINTA SEKOLAH TIDAK PAKSA MURID

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim saat berkunjung ke SMA Negeri 4 Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (8/7/2020) mengingatkan kepada seluruh sekolah yang ada di Indonesia agar tidak memaksa siswa untuk belajar di sekolah meskipun kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka telah diberlakukan.

Menurut Nadiem, sekolah harus fleksibel dengan keadaan yang dialami sekarang ini. Mendikbud menekankan, di tengah pandemi Covid-19, jika ada orang tua murid yang masih khawatir anaknya masuk sekolah, maka pihak sekolah harus memfasilitasi agar siswa tersebut tetap dapat melakukan belajar daring seperti sebelumnya dari rumah.

“Sekolah harus fleksibel. Jika ada orang tua murid yang masih khawatir anaknya masuk kembali ke sekolah bisa memilih belajar di rumah dan pihak sekolah harus tetap melayani serta memberikan pendidikan mata pelajaran bisa melalui daring atau online,” tutur Mendikbud.

Selain itu, Mas Menteri juga mengimbau kepada pihak sekolah agar tidak mendiskriminasi siswa yang enggan melakukan KBM tatap muka.

“Tidak boleh mendiskriminasi, baik dari sisi nilai mata pelajaran ataupun hal lain,” katanya.

Menurut Mas Menteri, di masa pandemi Covid-19 yang terpenting adalah keselamatan dan kesehatan seluruh insan pendidikan, baik itu murid ataupun guru. Meskipun wilayah telah ditetapkan sebagai zona hijau, pihak sekolah diminta tetap mengakomodir kemauan orang tua murid yang ingin tetap melakukan KBM jarak jauh.

“Pihak sekolah harus bijak dalam menyikapi kekhawatiran orang tua terhadap anaknya sebagai antisipasi agar tidak tertular virus berbahaya ini. Selain itu, Kemendikbud telah mengeluarkan kebijakan bahwa dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) bisa digunakan secara fleksibel oleh kepala sekolah, sehingga dana itu bisa dimanfaatkan untuk membeli kebutuhan peralatan dalam menjalankan KBM jarak jauh seperti kuota internet dan lainnya,” jelasnya.

Kemudian yang terpenting dalam melakukan KBM tatap muka, meskipun dalam pemberlakukannya dilakukan secara fleksibel, Mas Menteri meminta kolaborasi antara orang tua dan guru untuk saling berkoordinasi agar benar-benar memastikan siswa berada di sekolah.

“Jangan sampai bilangnya ke sekolah tapi ternyata tidak masuk. Ini harus benar-benar diawasi, koordinasi dan kolaborasi tetap dijaga antara orang tua dan guru,” tutur Nadiem.

Nadiem mengatakan KBM ini kuncinya adalah pola pikir kepala sekolah, guru, pengawas dan kepala dinasnya seperti apa, jika untuk keselamatan bersama mencari solusinya dan berinovasi. Maka dari itu, kreativitas dalam melaksanakan KBM ini harus dilakukan oleh setiap sekolah bagaimana pesan pendidikan bisa tetap sampai kepada seluruh murid dan gurunya, baik itu tatap muka langsung atau melalui daring.