INTERAKSI DALAM PEMBELAJARAN YANG MEMPERHATIKAN ASPEK SOSIAL DAN EMOSIONAL

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp

Salah satu narasumber dalam seri webinar Guru Belajar dengan judul “Kesiapan Pembukaan Sekolah dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat untuk Guru” yang ditayangkan melalui kanal Youtube GTK Dikmen Diksus TV, Weny Savitry S. Pandi memaparkan berbagai langkah melakukan interaksi pembelajaran yang memperhatikan aspek sosial dan emosional.

Hal ini sesuai dengan mandat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim dan Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK), Iwan Syahril bahwa saat melakukan pembelajaran tatap muka pada tahun ajaran 2020/2021 guru harus benar-benar memperhatikan psikososial anak didik sebelum memulai pembelajaran.

Weny dari Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) mengatakan ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh guru.

Pertama adalah Tidak ada formula RPP yang baku dalam pembelajaran. Dilanjutkan dengan kreativitas guru dalam mengembangkan pembelajaran. Meskipun dalam proses belajar mengajar telah ada kurikulum yang mengatur, namun guru harus benar-benar dapat mengembangkan pembelajaran sekreatif mungkin.

“Karena rancangan pembelajaran dari guru lah yang akan menentukan kehidupan kelas. Anak merasa kesepian atau tidak itu tergantung bagaimana kita merancang pembelajaran,” kata Weny.

Ketiga guru harus menyadari bahwa teknologi hanyalah alat bantu pembelajaran, yang terpenting adalah bagaimana melalui teknologi pun anak-anak bisa terus berinteraksi. Sehingga walaupun proses pembelajaran secara daring mereka tidak kesepian.

“Kemudian kita dapat menggunakan berbagai hal untuk belajar. Dan yang terpenting adalah tetap mengajarkan strategi belajar pada anak-anak baik itu secara tatap muka maupun daring, mereka tau bagaimana strategi belajar yang tepat,” kata Weny.

Selanjutnya, sambung Weny, kita perlu fokus pada pendidikan karakter. Ini yang paling utama karena segala hal yang bersifat kognitif akan lebih efektif jika anak-anak memiliki karakter yang baik.

“Dan mau tidak mau itu nantinya akan mendorong anak untuk berpikir kritis dan juga berpikir kreatif,” tutur Weny.