BELAJAR DARI IKAN YANG INGIN MEMANJAT POHON

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp

Siapa yang dapat memikirkan bagaimana ikan mampu memanjat pohon seperti kera. Tentu, ikan akan berpikir seumur hidup untuk mencari jalan keluar agar Ia dapat memanjat pohon, setidaknya untuk sekedar bergelantungan di ranting yang paling bawah.

Dalam sebuah webinar berjudul “Pendidikan Untuk Semua – No One Left Behind”, narasumber dari UNICEF, Anisa Elok Budiyani menggambarkan seorang guru (manusia) yang mengajar berbagai jenis hewan. Pelajaran yang diberikan adalah bagaimana cara agar hewan tersebut diperlakukan sama tanpa ada perbedaan. Dalam gambar yang diberikan, seorang guru meminta burung, monyet, gajah, anjing laut ikan dan hewan lainnya memanjat pohon.

Tentu, setiap orang yang melihat gambar tersebut akan berfikir bahwa hanya monyet yang mampu memanjata pohon, sedangkan hewan lain, khususnya ikan tidak akan mampu melakukannya.

“Kejadian ini sama halnya kita hadapi dikelas, baik itu sekolah reguler, sekolah inklusi, dan SLB dimanapun satuan pendidikan saya yakin semua guru menghadapi situasi seperti ini. Jadi anak-anak kita yang beragam,” kata Anisa.

Menurut Anisa, analogi ini adalah contoh bahwa memang setiap manusia ataupun hewan itu diciptakan sesuai dengan fitrahnya. Potensi yang ada di dalam diri manusia itu khusus dan tidak dapat disamakan dengan orang lain.

“Jadi kita memiliki potensi sendiri-sendiri. Jadi menyinggung pendidikan inklusif, sebenarnya tidak hanya kita membicarakan inklusi disabilitas, tapi bahwa memang setiap anak itu memiliki potensi yang beragam. Dan pendidikan yang bersifat inklusif adalah jenis pendidikan yang berpusat kepada siswa,” tutur Anisa.

Menurut Anisa, sekolah inklusif bersifat pendidikan berpusat pada anak seperti halnya diajarkan oleh bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara. Guru diharapkan berusaha keras untuk memahami siswa, memahami hambatan belajar siswa dan berusaha untuk memberikan dukungan untuk mengatasi hambatan belajar siswa.

“Jadi nuansanya ada pada partisipasi, semua anak-anak kita itu punya kesempatan untuk berpartisipasi dan mengembangkan dan memaksimalkan potensinya,” tambah Anisa.